JABARONLINE.COM – Kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan di wilayah Bogor Barat memicu aksi solidaritas warga. Lantaran tak kunjung mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, masyarakat di beberapa kecamatan terpaksa menggalang dana swadaya untuk memperbaiki lubang-lubang jalan yang kerap memicu kecelakaan.
Keluhan ini mencuat setelah sebuah video yang memperlihatkan kerusakan parah di Kecamatan Nanggung viral di media sosial pada Sabtu (4/4/2026). Dalam rekaman tersebut, Refi, seorang pemuda setempat, menunjukkan kondisi jalan di Kampung Cadas Le’ur, Desa Bantarkaret, yang penuh lubang dan genangan air. Ia meluapkan kekecewaannya karena jalan milik Pemda Kabupaten Bogor tersebut seolah dibiarkan tanpa perawatan.
Refi sendiri merupakan salah satu korban dari buruknya infrastruktur tersebut. Ia mengaku pernah terperosok ke lubang besar saat berkendara di tengah hujan deras. "Saya takut lewat sini kalau hujan, lubangnya tidak kelihatan karena tertutup air," ujarnya.

Aksi nyata warga terlihat di Desa Cisarua, di mana para pemuda Kampung Pongkor turun tangan melakukan perbaikan mandiri pada Kamis (9/4/2026). Mereka mengumpulkan iuran berkisar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per orang untuk membeli material semen dan pasir. Ketua Pemuda Kampung Pongkor, Ijam, mengungkapkan bahwa jalan tersebut belum pernah tersentuh perbaikan sejak dibangun pada tahun 2012.
"Hampir setiap hari ada yang jatuh, bahkan sampai ada yang terjun ke jurang. Kalau menunggu pemerintah, entah kapan diperbaiki," kata Ijam.
Persoalan ini juga mendapat sorotan tajam dari Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat. Perwakilan FKBP, Bram Suryadi, mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor untuk transparan mengenai anggaran pemeliharaan jalan tahun 2025 dan 2026. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui alokasi uang pajak yang mereka bayarkan.

"DPUPR harus membuka data pagu anggaran secara jelas. Perbaikan tidak boleh sekadar tambal sulam, harus dilakukan secara menyeluruh karena ini menyangkut keselamatan nyawa warga," tegas Bram, Jumat (10/4/2026).
Selain mengancam keselamatan, kerusakan jalan di ruas Cigudeg, Nanggung, dan Sukajaya ini turut melumpuhkan urat nadi perekonomian. Suprihadi, seorang warga Desa Curugbitung, mengeluhkan sulitnya distribusi hasil tani. Truk pengangkut sering mogok akibat terperosok, yang berdampak pada melonjaknya biaya transportasi dan harga barang di pasar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari DPUPR Kabupaten Bogor terkait tuntutan transparansi anggaran maupun rencana perbaikan permanen di wilayah tersebut. Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar mereka tidak terus-menerus menjadi "tukang jalan dadakan" demi kelangsungan hidup dan keselamatan bersama.***